Senin, 22 Februari 2016

Lembar Info PTK

Pilih/klik salah satu link di bawah ini  untuk anda login…!!
http://jetjetsemut.blogspot.co.id/2014/09/cek-tunjangan-dikdaslembar-info-guru.html

http://223.27.144.195:8081/info
http://223.27.144.195:8082/info
http://223.27.144.195:8083/info
http://223.27.144.195:8084/info
http://223.27.144.195:8085/info
http://223.27.144.195:8086/info/
http://223.27.144.195:8087/info/
http://223.27.144.195:8088/info/
http://223.27.144.195:8089/info/

Lembar Info PTK :
  1. Masukan NUPTK sebagai UserID
  2. Masukan tanggal lahir sebagai password dengan format penulisan
    YYYYMMDD
    dimana :
    YYYY = tahun lahir 4 digit
    MM = bulan 2 digit
    DD = tanggal 2 digit
    contoh :
  3. Tanggal lahir 10 Januari 1968
    Cara menuliskannya : 19680110
  4. Jika masih terdapat ke tidak sesuaian data di lembar info PTK dengan data riil, maka lakukan pengecekan data Anda di Aplikasi dapodik sekolah, lakukan perbaikan dan disynkron ulang.
login Info PTK
cek-data-guru3

Senin, 09 November 2015

Soal UKG 2015

Uji Kompetensi guru akan dilaksanakan secara serentak mulai 9 Nopember 2015 nanti yang akan dilaksanakan baik secara online maupun secara manual (offline) bagi seluruh guru di Indonesia. Untuk mengetahui nomor peserta, Mapel UKG jadwal dan TUK UKG bisa dibuka di link ini.


Contoh soal UKG Penjaskes (PJOK) Soal UKG guru TK Soal UKG guru PAI Contoh soal aplikasi UKG Soal media pembelajaran Soal UKG Pedagodik Soal pengetahuan perundangan pendidikan
Kali ini infogtk.com akan berbagi contoh soal UKG yang barangkali dibutuhkan para guru untuk belajar atau latihan jelas persiapan UKG, mengingat jika nilai UKG dibawah standar maka bisa berakibat fatal untuk urusan kenaikan pangkat dan tunjangan guru.
Buka juga cara mengerjakan soal UKG online
Ada beberapa macam contoh soal diantaranya mata pelajaran penjas, PAI, guru TIK, guru TK, pedagogik, kepribadian dll

Silakan klik pada link link dibawah ini

Contoh soal UKG Penjaskes (PJOK)
Soal UKG guru TK
Soal UKG guru PAI
Contoh soal aplikasi UKG
Soal media pembelajaran
Soal UKG Pedagodik
Soal pengetahuan perundangan pendidikan


Untuk anda guru kemenag buka contoh soal UKG Kemenag

Kamis, 10 September 2015

Persyaratan Mengurus Tugas Belajar dan Ijin Belajar

Dalam rangka pembinaan dan manajemen Pegawai Negeri Sipil khususnya pengembangan Sumber Daya Aparatur yang mampu mengoptimalkan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan maka perlu upaya pemerintah dalam meningkatkan kemampuan intelektual, pengembangan wawasan dan profesionalisme Pegawai Negeri Sipil melalui pemberian ijin belajar dan tugas belajar. Berawal dari hal tersebut  Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah mengeluarkan Peraturan Bupati Wonogiri Nomor 23 Tahun 2013 tentang Ijin belajar, tugas belajar, ijin penyesuaian gelar akademis, ujian kenaikan pangkatpenyesuaian ijazah dan kenaikan pangkat penyesuaian ijazah bagi pegeawai negeri sipil di lingkungan pemerintah kabupaten Wonogiri.
image
Peraturan Bupati ini tentu saja menjadi rujukan bagi para PNS dalam mengajukan permohonan Ijin belajar, tugas belajar, ijin penyesuaian gelar akademis, ujian kenaikan pangkatpenyesuaian ijazah dan kenaikan pangkat penyesuaian ijazah.
Untuk download Peraturan Bupati Nomor 23 Tahun 2013 : [Klik di sini]

Rabu, 27 Mei 2015

Mau Terlihat Seksi? Ini Caranya

Saat ini banyak sekali artis dan model membuat brand parfum atas namanya sendiri. Kemudian dengan kecantikan wajahnya dan keelokan tubuhnya mereka memikat pembelinya melalui iklan yang didesain sangat elegan. Iklan parrfum tersebut menjanjikan bahwa perempuan mana pun yang menyemprotkan cairan wangi tersebut, mereka akan tampil seseksi para model dan artis tersebut.

www.freedigitalphotos.net
Namun benarkah wewangian tersebut secara instan akan menggoda lelaki di sebelah Anda. Bagaimana dengan  orang-orang yang alergi terhadap wewangian. Jangan-jangan bukannya tertarik, mereka malah tunggang-langgang karena mencium parfum Anda.

Kabar baiknya ternyata pesan seksi yang disampaikan iklan tersebut benar adanya. Ketika Anda menyemprotkan parfum dengan aroma yang enak, Anda akan terlihat lebih seksi dan panas. Pada beberapa perempuan yang masih muda, aroma parfum juga akan membuatnya terlihat lebih muda.

Namun hati-hati bagi Anda yang sudah memiliki kerutan dan noda di wajah, parfum bisa membuat Anda terlihat semakin tua. Tampaknya parfum tak terlalu banyak menolong perempuan yang sudah berumur untuk tampil cantik dan seksi. Hal tersebut  terungkap oleh penelitian yang dilakukan oleh Monell Chemical Senseyang dilakukan kepada 18 laki-laki dan perempuan dewasa muda.

Selain itu, ada fakta menarik lagi yang dibeberkan oleh penelitian tersebut. Jika dua golongan perempuan tersebut (muda dan berumur) sama-sama memakai parfum yang tidak enak  baunya, orang-orang tidak bisa membedakan perbedaan umur antara perempuan muda dan sudah berumur. Mereka terlihat pada kisaran umur yang sama.  

Pesan yang ingin disampaikan adalah hati-hati untuk  memilih parfum. Jangan sampai cantiknya wajah Anda tersamarkan hanya karena wangi parfum murahan Anda. Oleh karena itu, jangan segan-segan berinvestasi pada parfum yang mahal. Anda berhak untuk tampil cantik dan seksi!

Senin, 25 Mei 2015

Tunjangan Fungsional dan Asuransi Guru di Garis Depan Aman; Janji Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan tunjangan fungsional dan asuransi bagi para pengajar yang siap ditempatkan ke pelosok Indonesia. Hal itu dikemukakan Presiden saat melepas 798 Guru Garis Depan yang akan dikirim ke kabupaten-kabupaten pedalaman Indonesia, hari ini.
“Juga tentu saja kita ingin agar nanti ada peningkatan jaminan hidup yang memadai bagi para guru yang ditugaskan di tempat-tempat terpencil dengan memberikan sebuah tunjangan fungsional. Pemberian asuransi yang menjamin keamanan dan keselamatan,” kata Jokowi, di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/5).

Jokowi menyatakan, masih banyak daerah terdepan dan terpencil yang jauh dari pemenuhan kebutuhan pendidikan seperti di Dompu, Merauke, perbatasan Entikong dan Sebatik. Pemerintah saat ini, kata dia, berkomitmen mewujudkan pemerataan pendidikan.
Menurut Jokowi, pemerintah juga memahami bahwa para guru tersebut nantinya membutuhkan sarana penunjang pengajaran dan penunjang karier mereka.

“Tapi bahagialah Bapak, Ibu dan Saudara-saudara semuanya menjadi angkatan pertama.  Tadi sudah disampaikan oleh pak menteri pendidikan, bahwa Bapak, Ibu dan Saudara-saudara semuanya adalah pejuang karena tempat yang akan dituju adalah memang tempat-tempat yang sulit, tempat-tempat yang terpecil, lokasi-lokasi perbatasan,” kata Jokowi.
Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan, guru yang dikirim melalui Guru Garis Depan siap mengajar di manapun. Mereka adalah guru permanen dan bukan hanya kontrak program. Hari ini para guru itu akan langsung berangkat ke daerah-daerah penempatan.

Presiden mengingatkan kualitas pendidikan tidak merata karena di daerah pedalaman, guru-guru terbatas kemampuannya hanya untuk mata pelajaran tertentu. Oleh karena itu ketimpangan pendidikan terjadi antara Jawa dan luar Jawa.

"Jangan lupa berikan karakter mental yang baik untuk anak-anak kita. Bahwa anak-anak yang berasal dari daerah pinggir harus punya sebuah kebanggaan bahwa mereka juga Indonesia," kata Jokowi.
Program Guru Garis Depan merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui program ini 800 guru akan disebar ke 38 kabupaten yang dianggap kurang dalam hal pendidikan.

Menurut Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P2TK) Dikdas, Sumarna Surapranata, seleksi guru garis depan ada tiga tahap.
Pertama, tahap registrasi pendaftaran di panitia seleksi nasional dan seleksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud ) yang diikuti 1480 calon perserta.
Kedua, tahap tes kompetensi dasar (TKD) mencakup tes wawasan kebangsaan, tes intelegensia umum, dan test karakteristik pribadi.
Ketiga, tahap penetapan nomor induk peserta (NIP) dan surat keputusan (SK) CPNS.

Selasa, 19 Mei 2015

Formalisme dalam Dunia Pendidikan

Kualitas pendidikan kita dari tingkat dasar sampai tinggi belum memuaskan. Untuk tingkat dasar sampai menengah, kualitas rendah pendidikan kita ditandai dengan peringkat Programme for International Student Assessment yang terus berada pada kisaran lima terendah dari sekitar 60 negara sejak tahun 2000.
Untuk pendidikan tinggi, jumlah karya ilmiah kita masih kalah jauh dengan jumlah karya ilmiah dari negara-negara tetangga di lingkup ASEAN. Telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah lewat berbagai kebijakan dan program mulai dari perbaikan kurikulum, model pendanaan seperti lewat dana bantuan operasional sekolah (BOS), program hibah kompetitif, perbaikan kualitas guru/dosen melalui program sertifikasi, sampai dengan pemberian otonomi ke beberapa perguruan tinggi negeri.
Sudah banyak usaha dan dana digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita, tetapi sebenarnya yang justru mendasar dan menjadi kunci perbaikan kualitas tidak tersentuh oleh berbagai program tersebut. Malahan dapat dikatakan bahwa kebijakan dan program yang dilakukan pemerintah memperparahnya. Hal yang diperparah itu adalah formalisme dalam pengelolaan pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi.


Yang saya maksud dengan formalisme adalah pemberian perhatian atau tekanan yang lebih besar pada aspek-aspek formal/legal kegiatan pengelolaan pendidikan ketimbang aspek-aspek yang lebih bersifat esensial dan penting terkait tujuan pendidikan. Tuntutan untuk memenuhi aspek legal/formal ini justru selalu menjadi bagian penting dan cenderung mendominasi setiap implementasi program perbaikan kualitas pendidikan yang digulirkan pemerintah.
Dalam implementasi Kurikulum 2013, yang akhirnya menjadi kesibukan utama para guru bukanlah melaksanakan model pembelajaran yang baik dan integratif, melainkan justru mengolah nilai yang rumit dan rinci karena menyangkut hampir semua aspek kehidupan siswa.
Begitu pula dalam pelaksanaan kegiatan penelitian yang didanai pemerintah, para dosen sangat disibukkan dengan pembuatan laporan keuangan yang sangat rinci dan bukan oleh kegiatan penelitian dan diseminasi hasilnya. Dalam Laporan Kinerja Dosen, setiap kegiatan juga harus disertai dengan surat tugas, bahkan bukti penulisan artikel di jurnal internasional pun baru sah kalau ada surat tugasnya. Surat tugas itu dibuat kapan dan oleh siapa tidak penting karena yang penting ada dan dilampirkan.

Taraf akut

Kuatnya formalisme di dunia pendidikan kita sudah pada taraf akut, bahkan sudah menjadi semacam ideologi bahwa hal itu menjamin kualitas yang lebih baik. Padahal, dampaknya adalah pereduksian makna dan praktik pendidikan ke wilayah formal legalistik. Pembelajaran tereduksi menjadi perkara administrasi nilai. Penelitian berubah lebih menjadi perkara pembuatan laporan keuangan. Demikian pula, kegiatan pemantauan dan evaluasi kualitas pendidikan lebih berkutat pada perkara ketersediaan dokumen dan pemenuhan peraturan.
Dengan formalisme ini akan menjadi jelas bagi kita semua mengapa pelajaran seni lebih berupa kegiatan menghafal hal-hal terkait seni karena pada akhir semester anak harus diuji secara formal pengetahuan seninya. Saya membayangkan betapa menariknya pelajaran seni ketika anak cukup diminta membawa alat musik yang paling disukai dan sekolah membantu menguasainya. Tidak perlu ada ujian mata pelajaran seni, tetapi semua anak lulus dan alangkah indahnya jika juga ada pentas yang menampilkan aksi pertunjukan mereka.
Alangkah prihatinnya kita menyaksikan anak-anak menghafal jenis tombol apa yang harus ditekan untuk menjalankan program komputer tertentu. Betapa absurdnya pendidikan kita ketika anak-anak kelas IV SD harus membaca teks padat kata-kata berbagai definisi tentang kelurahan, kecamatan, sampai lembaga tinggi negara seperti Mahkamah Konstitusi. Matematika dan Fisika yang mestinya menjadi pelajaran menarik dan menantang menjadi sangat membosankan karena aspek formalisme komputasi matematisnya yang justru menonjol dibandingkan dengan aspek pemecahan masalahnya.
Wabah formalisme ini mengalir deras sampai ke pendidikan tinggi. Dalam kegiatan seminar, memperoleh sertifikat sebagai pemakalah merupakan hal yang paling utama, sedangkan kegiatan diskusi dan debat tentang hasil penelitian cukup dilakukan sebagai basa-basi. Bahkan, ada usul menjadi guru besar yang ditolak hanya karena secara rumus matematis angka kreditnya kurang 0,4 dari syarat minimal 400. Padahal, dosen ini sudah malang melintang di berbagai pertemuan ilmiah dunia.
Formalisme ini menjadi musuh utama kreativitas dan kejujuran di sekolah. Padahal, sekolah harusnya menjadi tempat persemaian yang paling ideal bagi tumbuhnya kreativitas dan kejujuran. Mereka yang mempunyai kejujuran, ketulusan, dan kreativitas pasti akan tidak tahan menghadapi kuatnya tuntutan formalisme. Mereka akan menyingkir dan mencari tempat yang lebih sesuai. Pendidikan kita akhirnya kehilangan energi kreatif dan terperosok masuk ke dunia yang penuh dengan basa-basi yang memuakkan.
Sebenarnya peringatan akan dampak buruk dari formalisme ini pernah disampaikan rektor kedua Universitas Indonesia (1951-1954) Prof R Soepomo (Sulistyowati Irianto, 2012). Beliau mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh ditempatkan sebagai sebuah jawatan belaka di bawah administrasi Kementerian Pendidikan. Jika demikian, perguruan tinggi akan menyerahkan dirinya pada formalisme birokrasi dan sebagai akibatnya akan membinasakan semangat akademik dan perkembangan kehidupannya.

Jauhkan formalisme

Untuk itu formalisme harus sejauh mungkin dijauhkan dari dunia pendidikan kalau kita berharap ada perbaikan kualitas secara signifikan. Pemerintah sebagai pihak utama dalam pengelolaan pendidikan dapat membantu meminimalkan formalisme ini. Dalam tugasnya menjamin dan memfasilitasi perbaikan kualitas pendidikan, pemerintah sebaiknya menggunakan instrumen yang pokok dan sederhana. Pemerintah sebaiknya lebih positif dan percaya dalam memandang dan menempatkan institusi pendidikan baik negeri maupun swasta.
Dengan cara pandang ini, institusi pendidikan harus diberi otonomi yang lebih besar dalam pengelolaan kegiatannya. Pemerintah hanya perlu fokus pada indikator keluaran kunci seperti kualitas lulusan, prestasi institusi, serta karya dan kontribusi konkretnya. Aspek lain seperti kelengkapan dokumen, pendanaan, serta model pengelolaan dipercayakan sepenuhnya kepada institusi, lebih-lebih untuk institusi swasta.
Kalau pemerintah saat ini sedang mengusung tema besar "Revolusi Mental", bagi dunia pendidikan kita, revolusi mental itu paling tepat kita wujudkan dengan mengikis mental formalisme. Mentalitas formalistik bertentangan dengan arus utama abad ini yang justru diwarnai demokratisasi, bebas struktur, dan partisipatif sebagaimana terjadi dalam dunia internet. Pemerintah harus dan dapat menjadi pihak yang paling utama menyingkirkan formalisme ini dan jangan justru kelemahan dan kelambanan birokrasinya menyuburkan mental dan praktik formalisme ini.
Johanes Eka Priyatma
Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Info Guru

Info Guru dan Kepegawaian

Info pns

INFO PNS

Mengenai Saya